Minggu, 19 Mei 2019

Siswa-siswaku kali ini.... lain daripada yang lain

Karya 2



Berawal dari kebingungan tidak menemukan ide untuk menyelesaikan tugas 2 ON 1 PIT 6, terbersit untuk menulis keresahan yang saya rasakan menghadapi siswa-siswa kelas V tahun ini, itung-itung bisa curhat untuk mengurangi keresahan hati ini he..he..

Hampir delapan tahun saya mendapat kepercayaan untuk memegang kelas V di SDN Pandansari 02 kecamatan Kedungjajang baru kali ini saya dibuat resah dengan tingkah, sikap dan kelakuan anak didik saya.


Mengapa demikian .... ?  Inilah yang akan saya tuangkan dalam tulisan saya.
O... ya ... belum saya sebutkan lokasi sekolah tempat dinas saya.  SDN Pandansari 02 Kedungjajang di pinggiran kota tidak terlalu minggir juga sih... karena mau ke kota Lumajang juga tidak terlalu jauh. Selain itu dekat dengan terminal Minak Koncar serta akses jalannya pun tidak terlalu sulit juga. Apalagi sekarang ada Sumber Mrutu yang sering dikunjungi banyak orang, terutama kalo hari libur rame dikunjungi. Karena akses jalan  menuju Sumber Mrutu depan sekolahan. Bisa dikatakan kalo Pandansari letaknya transisi, tidak terlalu kota juga tidak ndeso.

Mungkin  posisi ini juga yang mempengaruhi pola pikir dan pola hidup masyarakatnya yang juga berpengaruh besar pada anak didik saya sekarang ini. Dibandingkan dengan siswa-siswa sebelumnya kelas V yang sekarang saya ampu kurang sekali gregetnya, mereka cenderung sebagai anak mama. Kemandiriannya, kepedulian dan kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya juga rasa tanggung jawabnya kurang sekali. Miris sekali rasanya setiap hari saya harus menegur dan mengingatkan mereka akan tugas piketnya, padahal sudah ada pembagian tugas piketnya.

Dari hasil pengamatan saya selama satu semester, ternyata jika di rumah sebagian besar siswa dimanjakan oleh orang tuanya, kecenderungan sebagian dari mereka di rumah lebih sering dieman dan disayang seperti putri atau pangeran ketimbang disuruh-suruh. Padahal seusia mereka harusnya sudah bisa mandiri dan bertanggung jawab terutama untuk dirinya sendiri. Seingat saya dulu waktu kelas 4 SD saya sudah diwajibkan untuk mencuci baju sendiri. Lha ini... buku tugasnya ketinggalan ... ibunya yang tergopoh-gopoh datang ke sekolahan mengantarkannya, minta maaf dan mohon supaya jangan diberi hukuman anaknya karena teledor tidak membawa bukunya padahal sudah ada jadwal pelajaran. Sampai segitunya lho....

Alhamdulillah... setelah pertemuan wali murid pada pembagian rapot semester ganjil kemarin kami saling sharing berkaitan dengan perkembangan karakter mereka ke depannya. Mereka sebagai orang tua memang mengakui memanjakan anaknya karena tidak ingin anaknya seperti hidupnya dulu, ada juga yang berkata (dengan logat Maduranya), " Tak omes bu guru....pas nyuruh nak kanak tak lekas e kerjaaki." Syukurlah.... yang terpenting sebagai orang tua mau menyadari kekurangannya. Karena pendidikan karakter seorang anak berawal dari keluarga baru didukung  di sekolah dan lingkungannya. Di sekolah selalu diajari untuk membiasakan buang sampah di tempatnya e.... di rumah seenaknya buang bungkus permen.

Yang utama ada niat dan keinginan untuk berubah lebih baik insyaAllah bisa, tidak ada kata terlambat meskipun butuh waktu karena merubah kebiasaan dan membiasakan yang baik itu tidak semudah dan secepat membalikkan telapak tangan. Kerjasama yang baik antara orang tua dan pihak sekolah juga sangat dibutuhkan. Dan insyaallah para guru sebagai pihak sekolah tidak akan lelah mendidik untuk generasi gemilang yang berkarakter di masa depan.



1 komentar:

  1. Memang benar bu..
    Yg paling utama adalah niat..
    Tanpa niat semua tak kan terlaksana..

    BalasHapus